AL-QUR’AN
A. Pengertian al-Qur’an
Pengertian al-Qur’an ditinjau dari sisi bahasa
artinya ”bacaan”. Adapun pengertian secara istilah adalah “Kalam Allah Swt.
yang merupakan mukjizat yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad SAW. dan ditulis di mushaf serta diriwayatkan dengan mutawatir, membacanya
termasuk ibadah”. Itulah
definisi yang dikemukakan oleh Dr. Subhi Al Salih.
B. Tempat
turunnya al-Qur’an.
Berdasarkan tempat
diturunkannya, al-Qur’an diturunkan di dua tempat yaitu di Makkah disebut surat
Makkiyyah dan di Madinah disebut surat Madaniyah. Ciri surat Makkiyah yaitu
surat-suratnya relatif pendek sedangkan surat Madaniyah surat-suratnya relatif
panjang. Selain itu, surat Makkiyah kecenderungan membahas tentang pentauhidan
Allah Swt. karena Makkah didominasi oleh musyrikin, dimana mereka menyekutukan
Allah Swt. dengan berhala, jin, dan malaikat. Adapun surat-surat Madaniyah
kecenderungan membahas tentang hukum-hukum dan peperangan.
C. Nama
lain dari al-Qur’an.
Nama
lain dari al-Qur’an adalah al-Kitab yang Allah sebutkan dalam surat
al-Baqarah (2) ayat 2 dan ad-Dukhan (44) ayat 2 berikut :
Kitab (al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka
yang bertakwa, (al-Baqarah, 2:2)
Demi kitab (al-Qur'an) yang menjelaskan,(ad-Dukhan,
44:2)
Selain al-Kitab, ada beberapa nama lain
dari al-Qur’an yang disebutkan Allah Swt. dalam kitab-Nya, yaitu sebagai
berikut :
- Al-Furqan
(Pembeda benar salah) al-Furqan
25:1
- Asy-Syifa'
(Obat/penyembuh) al-Isra
17:83
- Al-Huda
(Petunjuk) al-Jin
73:13
- Ar-Rahmat
(Karunia) an-Naml
27:77
- An-Nur
(Cahaya) an-Nisa
4:174
- Al-Basha'ir
(Pedoman) al-Jatsiyah
45:20
- Al-Mau'idhah
(Pelajaran/nasihat) Yunus
10:57
- Al-Hukm
(Peraturan/hukum) ar-Ra’d
13:37
- Adz-Dzikr
(Pemberi peringatan) al-Hijr
15:9
- Al-Hikmah
(Kebijaksanaan) al-Isra
17:39
D.
Sejarah diturunkannya Al-Qur’an
Al-Quran merupakan wahyu terbesar Nabi Muhammad Saw.
yang diturunkan secara berangsur-angsur sejak beliau di Makkah sampai Madinah.
Pembagian surat al-Qur’an berdasarkan tempatnya terbagi dua yaitu surat yang
diturunkan di Makkah dinamakan surat Makiyah dan yang diturunkan di Madinah
dinamakan surat Madaniyah. Pembagian waktu turunnya yaitu di Makkah selama 13
tahun dan di Madinah 10 tahun. Dengan demikian al-Qur’an diturunkan kepada nabi
Muhammad sekitar 23 tahun melalui perantara malaikat Jibril.
1. Proses
turunnya al-Qur’an
Berikut adalah pendapat para ulama
terkait proses turunnya al-Qur’an :
a.
Dari lauhil mahfudz ke langit dunia (daarul
izza/baitu izza) secara sekaligus (30 juz) pada malam lailatul qadar. Firman Allah : al-Baqarah: 185, al-Qadar : 1, ad-Dukhan
: 3. Pendapat ini dikuatkan pada tafsiran surat al-Qadar ayat pertama dalam
kitab tafsir at-Tabari, Ibnu Abbas, Ibnu Katsir, Jalalain, dan Jalaluddin
as-Suyuthi dalam Ad-durrulmantsur fii tafsiri bil masur.
b.
Dari
langit dunia ke Nabi Muhammad Saw. secara berangsur-angsur dengan waktu 22
tahun 2 bulan 22 hari pada tanggal 17 Ramadhan saat Nabi Muhammad berusia 40
tahun sampai 9 dzulhijjah saat beliau berusia 63 tahun atau 10 hijriyah.
Pendapat ini diterangkan dalam Tafsir Ibnu
Katsir Bab Keutamaan Al-Qur’an. Imam Ibnu Katsir membawakan sebuah riwayat
shahih Abu ‘Ubaid al-Qasim bin Salam berkata dari Ibnu ‘Abbas, ia
berkata : ‘Al-Qur’an diturunkan sekaligus dalam satu waktu ke langit dunia
ketika Lailatul Qadar. Setelah itu, diturunkan secara bertahap selama
deuapuluh tahun.‘ Kemudian ia membaca:
Dan Al Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi
bagian. (Al-Israa, 17:106)
c.
Asbabu
an-Nuzul surat al-Qadar itu terkait kisah hamba Allah
dari kalangan bani Israil yang beribadah selama 1000 bulan dengan cara mengisi
malam dengan tahajjud dan siang dengan jihad di jalan Allah, maka para
sahabat merasa iri dengan amal baiknya dan merasa tidak akan mampu menandingi
hamba tersebut. Kemudian wahyu turun membawa kabar gembira melalui surat ini.
Artinya para sahabat dan umat Nabi Muhammad bisa mendapatkan kemuliaan seperti
hamba yang beribadah 1000 bulan itu. (Hadits dari Ibnu Jarir dari Mujahid
dalam tafsir Al-Munir)
2. Proses
turunnya ayat pertama
Banyak teori yang mencoba untuk
menjelaskan proses turunnya ayat pertama. Para ulama tidak sepakat terkait
tanggal dan ayat/surat yang pertama kali turun. Berikut adalah beberapa
pendapat para ulama terkait tema ini :
a.
Pendapat
yang paling kuat, ayat pertama yang turun kepada Nabi Muhammad adalah surat
al-‘Alaq ayat 1-5.
b.
Sheikh
Shofiyur-Rohman Al-Mubarokfuri berpendapat hari senin tanggal 21 bulan Ramadhan
malam.
c.
Imam
Ibnu Katsir (W. 774 H) diriwayatkan dari Abu Ja’far Al-Baqir yang mengatakan
bahwa “wahyu pertama kali turun pada Rasul SAW. pada hari senin 17 Ramadhan dan
dikatakan juga 24 Ramadhan.”
d.
Ayat
terakhir yang turun kepada nabi Muhammad bedasarkan keterangan Ibnu Abbas yang
diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya adalah surat al-Baqarah ayat 278 –
281.
e.
Ayat
terakhir diturunkan pada tanggal 9 Djulhijjah 10 H bertepatan dengan 8 Maret
632 M.
f.
Penulisan
ayat-ayat al-Qur ‘an dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad, namun pada saat
itu masih belum berbentuk mushaf.
Berikut adalah keterangan-keterangan penting
terkait sejarah al-Qur’an :
a.
Pengumpulan
ayat-ayat al-quran dimulai pada masa kekhalifahan Abu Bakar.
b.
Al-quran
dikumpulkan dan dibundel pada masa kekhalifahan Utsman bin Affan.
c. Orang
yang diperintahkan menulis al-quran pada masa nabi adalah Zaid bin
Tsabit, Ali bin
Abi Talib, Muawiyah bin Abu Sufyan dan Ubay bin Kaab.
d.
Pada
masa kekhalifahan Utsman, al-Qur'an disalin dari mushaf aslinya dan diperbanyak.
e. Urutan
ayat dan surat ditentukan sendiri oleh Nabi Muhammad yang selalu bertadarus
dengan malaikat Jibril di bulan Ramadhan.
f.
Pemberian
titik dan baris pada mushaf al-Qur’an dilakukan pada masa Dinasti
Umayyah.
g. Pertama kali al-Qur'an di cetak pada abad ke-16 M tahun 1530’an di Italia.
Dan disebutkan dalam hadits Abu Umamah dia berkata:
“Rasulullah bersabda atas dua lelaki, salah satunya gemar beribadah dan yang
satu pemilik ilmu, maka Rasulullah bersabda,
فَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى
الْعَابِدِ كَفَضْلِى عَلَى أَدْنَاكُمْ. ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله
عليه وسلم- إِنَّ اللَّهَ وَمَلاَئِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضِ
حَتَّى النَّمْلَةَ فِى جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ
النَّاسِ الْخَيْرَ
“Keutamaan seorang pemilik ilmu dibanding orang yang gemar
beribadah seperti keutamaan diriku dibanding orang yang paling rendah dari
kalian.” Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-Nya serta
penduduk langit dan bumi sampai semut dalam lubangnya, sampai ikan, mereka
bershalawat (mendoakan) kebaikan bagi para pengajar manusia.” (HR
At-Tirmidzy,2685 dishahihkan Al-Albany dalam At-Targhib, no. 91) .
Pelajaran
yang dapat diambil dari hadits tersebut ialah:
1.
Orang
yang memiliki ilmu lebih utama dari pada orang yang beribadah tanpa ilmu.
2.
Dido’akan
oleh khalik dan makhluk untuk kebaikannya.
a. Memperoleh ilmu dan mengamalkannya
b. Orang yang memiliki ilmu agama dan mengamalkannya akan membawakan kebaikan di dalam pekerjaannya.
Semoga bermanfaat
BalasHapus